Mading Mini Sumber Literasi
MADING MINI SUMBER LITERASI
Oleh : Sri Rahayu, S. Pd.
Berawal dari suatu saat saya menemukan kejenuhan terhadap cara
murid yang lebih gemar membuat tulisan alay atau tulisan yang tidak penting di
media sosial ketimbang mereka membuat tulisan atau karya yang bisa membuat aksi
mereka lebih berarti dan berguna. Itu karena disebabkan saat itu para murid
hanya menuangkan tulisannya dalam status-status media sosialnya padahal sama
sekali tidak bermanfaat. Dan karena kebetulan saya seorang guru mata pelajaran
Bahasa Indonesia maka saya menjadikan ini sebuah masalah dimana murid tidak
lagi membudayakan literasinya. Dari kejadian ini saya mengangkat sebuah ide
kecil untuk membantu para murid dalam menumbuhkan kemampuan menulis dan budaya
baca dalam sebuah media nyata yaitu Mading Mini, karena kebetulan saya mengajar
di Sekolah Menengah Atas (SMA).
Tantangan yang saya hadapi adalah merubah cara atau kebiasaan
buruk murid dalam hal kemampuan literasi, yaitu baca dan tulis. Kesulitannya
itu terletak pada saat kebiasaan buruk murid memposting tulisan-tulisan alay di
dinding media sosial mereka yang akan ditukar dengan membiasakan mereka membuat
sebuah tulisan (karya) untuk ditempel di mading mini yang terletak di dalam
kelas masing-masing. Sebab, setiap karya yang mereka buat haruslah bagus dan
berguna.
kemudian aksi yang saya lakukan untuk merubah kebiasaan murid ini,
saya membuat strategi dan menerapkan pendekatan sebagai upaya mengatasi
kebiasaan buruk mereka. Dengan langkah dan cara yang berbeda saya membuat program
Mading Mini disetiap lokal murid yang saya masuki kelasnya kemudian saya
membuat rancangan aktivitasnya, dimulai dari ;
-
Murid saya bagi kedalam
beberapa kelompok tiap kelas
-
Selanjutnya murid dapat
menuliskan beberapa karyanya, baik fiksi maupun nonfiksi
-
Kemudian setiap kelompok
bergantian mengisi Mading Mini yang ada di kelasnya masing-masing secara
bergantian tiap kelompoknya.
-
Ketika Mading Mini
terisi oleh 1 (satu) kelompok, dan kelompok murid yang lainnya wajib membaca
hasil karya temannya, sembari menulis karya untuk kelompoknya.
Begitu seterusnya secara bergiliran, dengan demikian setiap murid
bertanggung jawab untuk kelompoknya masing-masing dan akan lebih terfokus
dengan kegiatan literasi melalui Mading Mini tersebut dan berkat kerjasama rekan
guru, wali kelas dan kepala sekolah maka saya berhasil menerapkan cara saya
untuk merubah kebiasaan buruk murid menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Hasil dari perubahan yang terjadi adalah murid jadi gemar menulis
dan membaca hasil karya dan mau berkarya serta menempelkannya di Mading Mini
kelas. Murid jadi lebih bersemangat untuk membaca-baca buku pelajaran bahkan
buku cerita untuk mendapatkan ide dalam membuat karya mereka yang akan
ditempelkan dipajang. Disis lain, kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang
peningkatan literasi murid saja, namun secara tidak langsung murid juga
terlatih untuk mengetahui pentingnya berkolaborasi dan bekerjasama dalam
kelompok dalam menyelesaikan masalah dalam belajar, serta murid menjadi lebih
bisa menghargai karya orang lain dan tidak sembarangan ketika mengomentari
karya temannya.


Komentar
Posting Komentar